Istana basa pagaruyung....

Keberadaan Istano tiga lantai yang terletak sekitar 4 Km dari Ibukota Kabupaten itu, memang tidak bisa dipisahkan dari pasang-surut etnis Minang. Dalam sejarahnya, istano ini sudah empat kali dipindah-tempatkan. Lokasi pertama kerajaan terletak di Ateh Bukik Batu Patah Jorong Gudam, selanjutnya di Sungai Bunggo Jorong Godam dan tak jauh dari Sungai Bunggo. Ketiga Istano itu umumnya hancur karena terbakar. Bahkan tahun 1804 istana yang dibangun Rajo Alam itu dibakar oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Ide pertama pembangunan kembali istano yang baru terbakar itu, menurut satu-satunya bendahara dan konsultan ahli pembangungan kembali istano itu Djafri Dt Bandaro Lubuak Sati, berasal dari Mantan Gubernur Sumbar Harun Zein Datuak Sinaro sekitar tahun 1973. ”Lalu, tahun 1974-1975 tim yang ditunjuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar dengan dukungan tiga tenaga konsultan ahli, selain saya juga Datuak Simarajo (mantan Ketua Kerapatan Adat Nagari Pagaruyung) dan Abu Yazid Seribujaya (ahli purbakala Kanwil Pariwisata) (keduanya sudah meninggal, red) melakukan observasi,” jelas Djafri. Tahun 1976, tambah Djafri sudah berdiri tiang tuo (utama, red) istana tersebut, baru tanggal 27 Desember 1976 sudah berdiri rangka istano dengan kontraktor dari PT Pembangunan Perumahan. Sedangkan anggaran diperoleh dari APBD Sumbar dan APBN, serta bantuan masyarakat. Bahkan, juga berasal dari Kerajaan Nagari Sembilan. Sekitar tahun 1986, pembangunan tahap pertama tuntas dilakukan dengan total anggaran tak lebih Rp1 miliar,” katanya.
Miliki 4.500 Unit Barang Purbakala
Untuk mengisi ulang Istano Basa, tambah Djafri, dilakukan dengan mengumpulkan barang-barang purbakala melalui masyarakat atau keturunan kerajaan yang masih tertinggal. ”Ada yang menerima ganti rugi, hibah atau hanya menitibkan begitu saja di istano. Total keseluruhannya mencapai 4500 unit,” ungkapnya. Keseluruhan barang-barang purbakala itu, menurut Djafri ditempatkan sesuai dengan peruntukannya. Lantai pertama yang dikenal dengan ”Rumah Gadang Tigo Sasaing, di Kida Sarambi Papek, di Kanan Rajo Babandiang dan Tangah, Gajah Maharam,” di lantai ini ditempatkan barang-barang yang berhubungan dengan tahta kerajaan, permufakatan, musyawarah, penyambutan tamu, dan pengambil keputusan dalam persengketaan.
Sedangkan lantai II, dikenal dengan ”Anjungan Paranginan”. Di lokasi ini ditempatkan tilam (kasur), katil (tempat tidur raja). Juga, kelengkapan menenun, serta peralatan dengan kerajinan wanita. Pasalnya, lantai ini tak memang seyogyanya diperuntukan untuk wanita dan keluarga raja. Kalau melangkah ke tingkat III, di lantai ini ditempatkan dokumen-dokumen yang berharga. Dalam ruangan yang lebih dikenal dengan “Mahligai” ini, diisi dengan surat-surat rahasia, tambo, keris pusaka, dan lainnya. ”Itulah sebabnya, untuk lantai II dan III biasanya tidak dibuka untuk umum, karena di situ disimpan barang-barang bernilai sejarah tinggi dan rawan rusak,” katanya.
sumber : padek
Ide pertama pembangunan kembali istano yang baru terbakar itu, menurut satu-satunya bendahara dan konsultan ahli pembangungan kembali istano itu Djafri Dt Bandaro Lubuak Sati, berasal dari Mantan Gubernur Sumbar Harun Zein Datuak Sinaro sekitar tahun 1973. ”Lalu, tahun 1974-1975 tim yang ditunjuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar dengan dukungan tiga tenaga konsultan ahli, selain saya juga Datuak Simarajo (mantan Ketua Kerapatan Adat Nagari Pagaruyung) dan Abu Yazid Seribujaya (ahli purbakala Kanwil Pariwisata) (keduanya sudah meninggal, red) melakukan observasi,” jelas Djafri. Tahun 1976, tambah Djafri sudah berdiri tiang tuo (utama, red) istana tersebut, baru tanggal 27 Desember 1976 sudah berdiri rangka istano dengan kontraktor dari PT Pembangunan Perumahan. Sedangkan anggaran diperoleh dari APBD Sumbar dan APBN, serta bantuan masyarakat. Bahkan, juga berasal dari Kerajaan Nagari Sembilan. Sekitar tahun 1986, pembangunan tahap pertama tuntas dilakukan dengan total anggaran tak lebih Rp1 miliar,” katanya.
Miliki 4.500 Unit Barang Purbakala
Untuk mengisi ulang Istano Basa, tambah Djafri, dilakukan dengan mengumpulkan barang-barang purbakala melalui masyarakat atau keturunan kerajaan yang masih tertinggal. ”Ada yang menerima ganti rugi, hibah atau hanya menitibkan begitu saja di istano. Total keseluruhannya mencapai 4500 unit,” ungkapnya. Keseluruhan barang-barang purbakala itu, menurut Djafri ditempatkan sesuai dengan peruntukannya. Lantai pertama yang dikenal dengan ”Rumah Gadang Tigo Sasaing, di Kida Sarambi Papek, di Kanan Rajo Babandiang dan Tangah, Gajah Maharam,” di lantai ini ditempatkan barang-barang yang berhubungan dengan tahta kerajaan, permufakatan, musyawarah, penyambutan tamu, dan pengambil keputusan dalam persengketaan.
Sedangkan lantai II, dikenal dengan ”Anjungan Paranginan”. Di lokasi ini ditempatkan tilam (kasur), katil (tempat tidur raja). Juga, kelengkapan menenun, serta peralatan dengan kerajinan wanita. Pasalnya, lantai ini tak memang seyogyanya diperuntukan untuk wanita dan keluarga raja. Kalau melangkah ke tingkat III, di lantai ini ditempatkan dokumen-dokumen yang berharga. Dalam ruangan yang lebih dikenal dengan “Mahligai” ini, diisi dengan surat-surat rahasia, tambo, keris pusaka, dan lainnya. ”Itulah sebabnya, untuk lantai II dan III biasanya tidak dibuka untuk umum, karena di situ disimpan barang-barang bernilai sejarah tinggi dan rawan rusak,” katanya.
sumber : padek

0 Comments:
Post a Comment
<< Home