Friday, March 2, 2007

Jamarin, Kepala Tukang Istano Pagaruyung, Diselimuti Kesedihan Sebelum Kebakaran

Replika Istano Pagaruyung kini hanya tinggal tiang-tiang beton. Jamarin, hanya bisa terpangu menatap bangunan yang pernah dikerjakannya 30 tahun silam itu, rata dengan tanah.Guratan garis wajah Jamarin, terlihat begitu jelas. Usia yang telah memasuki 78 tahun, tak menghapuskan ingatannya, mengenang kerja kerasnya membangun replika Istano Pagaruyung.

Matanya tak lepas memandang bangunan yang hanya tinggal rangka. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Apakah dia terkenang bagaimana perjuangannya mengerjakan bangunan tersebut, atau dia sedang berhiba hati ketika hasil karyanya dikalahkan si jago merah.
Jamarin, pria yang ketika mengerjakan Istano Pagaruyung di tahun 1977 menjadi kepala pekerja bangunan (kepala tukang). Pria ini bukan saja berpengalaman mengerjakan pembangunan replika rumah adat Minangkabau di Indonesia. Di tahun 2005 lalu, dirinya membangun di Bali, kemudian di dua rumah di Malaysia. Begitu juga rumah milik Ny Mursidah Kalla di Lintau, juga pernah dikerjakannya.
Pengalamannya memang begitu banyak. Namun, kenangannya ketika membangun replika Istano Pagayurung menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Kenapa tidak. Bangunan ini menjadi bangunan termegah yang pernah dikerjakannnya, bukan hanya sebagai milik masyarakat Tanahdatar, tapi juga sebagai milik masyarakat Sumbar.
Pria asal Kumbanglandai, Kecamatan Tanjungameh ini, tak merasakan firasat apa-apa menjelang terbakarnya Istano tersebut. Namun, dua hari sebelum kejadian, Jamarin selalu berhiba hati. Pria ini tidak mengetahui apa yang menyebabkan perasaannya seperti itu.
“Dua hari sebelum terbakar, rasanya selalu berhiba hati. Padahal tidak ada kejadian apa-apa. Begitu juga saat kejadian. Meskipun terlihat percikan api, tidak ada firasat sedikit pun,” ujar pria yang tinggal 5 kilometer dari replica Istano Pagaruyung ini.
Sewaktu pengerjaan, Jamarin mendapat jatah membuat tiang bangunan, rangka atap dan dinding. Menurutnya, bangunan tersebut memiliki 11 gonjong, 9 ruang dan 72 tiang.
Hampir tiga tahun, bangunan tersebut baru dapat diselesaikan. Meskipun telah diletakkan tunggak tuo (tiang utama) 27 Desember 1976, namun pengerjaannya dilakukan sekitar bulan April 1977.
Untuk bagian atap membutuhkan sekitar 800 ton ijuk. Sedangkan untuk kayu, Jamarin tidak bisa mengingatnya. Namun, kayu yang digunakan jenis surian. Umumnya, kayu ini banyak ditemui di Bukittinggi. Waktu itu, Jamarin mengerjakan 40 pekerja untuk pembangunan bangunan tersebut.
Sebelum pembangunan, kata Jamarin, dilakukan pemotongan satu kerbau, agar pengerjaan dapat berjalan lancar.
“Biasanya, selama ini kita selalu melakukan doa di Lubuaksati agar terjaga keselamatan. Namun, semenjak dua tahun belakangan kegiatan tersebut, tidak pernah dilakukan lagi,” katanya.
Meski usia telah senja, semangatnya tak pernah luntur. Bahkan, dirinya siap jika diminta untuk mengerjakan pembangunan istano itu kembali. Dirinya hanya bisa berharap agar bangunan ini bisa dibangun sesegera mungkin, sehingga berdiri kembali dengan gagah.
“Saya siap jika diminta untuk mengerjakannya kembali. Kapan pun diminta,” ujar Jamarin dengan semangat. (***)

sumber : www.padangekspres.co.id

0 Comments:

Post a Comment

<< Home