Friday, March 2, 2007

Sejarah Perang Paderi

Banyak versi mengenai Perang Paderi di Minangkabau. Penulis 
menemukan catatan yang cukup rinci mengenai peperangan ini
dari catatan Abdul Qadir Djaelani yang tersimpan dalam milis
Apakabar (tahun 2000) di internet, yang diperkirakan merupakan
terjemahan dari arsip yang dimiliki oleh Belanda pada saat itu.
Dengan meringkas, mencocokkan, dan menambahkan dari sumber-
sumber lain, riwayat Perang Paderi ini dapat dibaca sebagai
berikut :

1802
3 orang haji yang lama bermukim di Mekah kembali ke Minangkabau,
yaitu Haji Miskin dari Pandai Sikat (Luhak Agam), Haji Abdur
Rahman dari Piabang (Luhak Lima Puluh Koto) dan Haji Muhammad
Arief dari Sumanik (Luhak Tanah Datar).
Mereka membawa paham Wahabi (dari Muhammad bin Abdul Wahab
1703-1787) yang sangat keras dalam menjunjung praktek keagamaan.

1803
Gerakan Paderi bermula di Minangka-bau, dan mendapatkan tentangan
yang cukup
keras dari masyarakat. Haji Muhammad Arief akhirnya
pindah ke Lintau, Haji
Miskin pindah ke Ampat Angkat, dan hanya
Haji Abdur Rahman yang tidak
mendapatkan perlawanan.
Perpindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat disambut hangat oleh
Tuanku nan
Renceh dari Kamang, Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku
di Padang Lawas, Tuanku di
Koto Padang Luar, Tuanku di Galung,
Tuanku di Koto Ambalau, dan Tuanku di Lubuk
Aur. Mereka berbai’ah,
kemudian kelompok ini dikenal sebagai Harimau nan

Salapan. Mereka mengharapkan dukungan dari Tuanku nan Tuo di
Ampat Angkat;
namun ditolak dan akhirnya mengangkat Tuanku
di Mansiangan putera dari Tuanku
nan Tuo sebagai pemimpin.
Pada kenyataannya kelompok tersebut dipimpin oleh
Tuanku nan
Renceh. Pasukan Paderi ini mengenakan pakaian putih-putih sebagai
lambang perjuangan suci mereka. Kaum adat menantang gerakan
Paderi ini dengan mengadakan perhelatan adat yang
penuh dengan
kemaksiatan, seperti : menyabung ayam, berjudi, minum minuman

keras, madat, dan sebagainya bertempat antara Bukit Batabuah
dengan Sungai Puar
(sebagian kisah menyebutkan Pandai Sikek)
di lereng Gunung Merapi. Tantangan
ini ditanggapi oleh Pasukan
Paderi sehingga menyerbu tempat tersebut, dan ini
memulai Perang
Paderi (tahap pertama) yang meliputi peperangan antara Pasukan

Paderi dengan Kaum Adat.

1804
Peperangan Paderi berlanjut ke Kamang, Tilatang, Padang Rarab,
Guguk,
Candung, Matur, sehingga pada tahun 1804 seluruh Luhak
Tanah Agam telah berada
dalam kekuasaan Paderi. Tahun-tahun
setelah itu Pasukan Paderi menguasai Luhak
Lima Puluh Koto,
dengan tanpa perlawanan yang berarti. Operasi Pasukan Paderi

ke Luhak Tanah Datar mengalami perlawanan yang berimbang,
terutama karena di
luhak ini merupakan pusat kekuasaan Kerajaan
Minangkabau yang bertempat di
Pagarruyung.

1806
Republik Batavia Belanda berubah kembali menjadi Kerajaan
Belanda, tapi masih
dalam pengaruh Perancis. Tahun 1807
Belanda menunjuk H.W. Daendels sebagai
Gubernur Jenderal
Hindia Belanda. Inggris mulai agresif menguasai
wilayah-
wilayah jajahan.


1808
Setelah melalui perjuangan yang panjang, pada tahun 1808
dilakukan
perundingan antara Pasukan Paderi dengan Raja
Pagarruyung di Koto Tangah. Raja
Sultan Arifin Muning Alam
Syah datang bersama staf kerajaan dan sanak keluarga,

sedangkan dari Pasukan Paderi hadir Tuanku Lintau lengkap
bersama seluruh
pasukannya. Karena terjadi perselisihan paham
antara Tuanku Belo dan staf
kerajaan, akhirnya terjadi pertikaian
yang mengakibatkan rombongan raja
terbunuh. Sebuah versi
menyebutkan raja berhasil melarikan diri. Beberapa
penghulu
dan cucu raja berhasil menyelamatkan diri sampai ke Sijunjung dan

Kuantan – Lubuk Jambi. Akibat peristiwa ini Tuanku nan Renceh
sangat marah
kepada Tuanku Lintau; begitupun seluruh Luhak
Tanah Datar berhasil dikuasai
oleh Pasukan Paderi. Beberapa waktu
setelah itu Tuanku nan Renceh memerintahkan muridnya, Peto

Syarif atau Muhammad Syahab atau kemudian dikenal dengan sebutan
Tuanku Imam
Bonjol untuk membuat benteng di Bukit Tajadi sekitar
Alahan Panjang. Benteng
dibangun pada areal seluas 90 hektar, dengan
tembok setinggi 4 meter dan tebal
3 meter. Lokasi Alahan Panjang ini
yaitu di hulu sungai Alai Panjang, sebuah
tempat antara Kota Lubuk
Sikaping dan negeri Bonjol, dan pada saat ini berada
di tepi jalan
lintas Sumatera.


1812
Hamengkubuwono II ditangkap oleh Inggris kemudian diasingkan ke
Padang.
Kaum adat di Alahan Panjang dengan pimpinan Datuk Sati
menyerbu Benteng
Bonjol, namun penyerangan ini mengalami
kegagalan. Selanjutnya Datuk Sati
melakukan perdamaian dengan
Pasukan Paderi, sehingga sejak saat itu Pasukan
Paderi menguasai
seluruh Alahan Panjang.
Keberhasilan Tuanku Imam Bonjol,
menyebabkan beliau ditugaskan untuk memimpin
Pasukan Paderi
di Pasaman. Beliau memimpin pasukan mulai dari Lubuk Sikaping,

Rao, Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku, dan seluruh pantai barat
Minangkabau
sebelah utara.

1814
Belanda melepaskan diri dari pengaruh Perancis. Inggris setuju
menyerahkan
Hindia Belanda kepada Belanda.

1815
Peperangan Paderi di Minangkabau telah menelan korban yang
cukup besar.
Pasukan Paderi telah menguasai Pasaman, selanjutnya
Pasukan Paderi mengarahkan
perjuangannya ke Tapanuli Selatan.
Tuanku Imam Bonjol menunjuk Tuanku Rao untuk
memimpin
benteng di Rao, sedangkan Tuanku Tambusai memimpin benteng di

Dalu-dalu.

1818
Sutan Muning Alam Syah (raja Minangkabau di wilayah pelarian)
mengutus Tuanku
Tangsir Alam dan Sutan Kerajaan Alam untuk
menemui Jenderal Inggris Sir
Stamford Raffles di Padang. Namun
Gubernur Jenderal Inggris Lord Minto yang
berkedudukan di Calcutta
India menolak campur tangan terhadap permasalahan di
Minangkabau.

1819
Belanda masuk ke Padang. Raffles yang sebelumnya menjadi Gubernur
Jenderal
Inggris di Bengkulu dan pindah ke Singapura, mulai menghasut
rakyat Minangkabau
untuk membenci Belanda.
Tuanku Pamansiangan di Luhak Agam meminta Tuanku Imam Bonjol
untuk menarik
pasukannya dari Tapanuli untuk menghadapi Belanda
di Padang. Namun keinginan
ini ditolak oleh Tuanku Rao, Tuanku
Tambusai, dan Tuanku Lelo, sehingga Tuanku
Imam Bonjol hanya
memantau gerakan Belanda dari kejauhan.


1820
Tuanku nan Renceh meninggal dunia, selanjutnya kepemimpinan
Pasukan Paderi
diserahkan secara mufakat kepada Tuanku Imam
Bonjol.
Belanda mulai menyebarkan pengaruh di Minangkabau.

1821
Mulainya perang Paderi (tahap kedua) di Minangkabau, yang meliputi
peperangan
antara Pasukan Paderi melawan Belanda, yang kemudiannya
Belanda dibantu oleh
Kaum Adat. Peperangan sengit berlangsung di 3
tempat, yaitu : Simawang untuk
menyerang kubu Pasukan Paderi di
Sulit Air, Air Bangis, dan Lintau. Peperangan
di Air Bangis mengakibatkan
Tuanku Rao gugur dalam pertempuran.
Peperangan bermula dari
pertemuan 14 orang Penghulu yang mengatasnamakan Yang
Dipertuan
Minangkabau mengikat perjanjian dengan Residen Belanda di Padang

bernama Du Puy untuk memerangi Pasukan Paderi, terjadi pada tanggal
10 Februari
1821. Belanda kemudian mengerahkan 100 pasukan dan 2
meriam di bawah pimpinan
Letnan Kolonel Raaff untuk menggempur
pertahanan Paderi di Simawang. Dengan
susah payah Belanda akhirnya
menguasai Sulit Air, Simabur, dan Gunung.
Belanda membangun benteng
Fort de Kock di Bukittinggi.
Belanda memasuki Batusangkar,
kemudian membangun benteng Fort van der
Capellen.

1822
Belanda menyerang Pagarruyung, sehingga Pasukan Paderi mundur
ke Lintau.
Penyerangan Belanda ke Lintau dapat dipatahkan.
Selanjutnya Belanda memblokade
Lintau, dan secara bertahap
merebut Tanjung Alam, Koto Lawas, Pandai Sikat, dan
Gunung dalam
rangka menguasai Luhak Agam. Tuanku Pamansiangan dapat ditangkap,

selanjutnya dihukum gantung oleh Belanda. Tuanku Imam Bonjol
melancarkan serangan balasan ke Air Bangis, walau gagal,
selanjutnya
melancarkan serangan ke Luhak Agam, dan berhasil menguasai kembali

Sungai Puar, Gunung, Sigandang, dan daerah lainnya. Juli, sekitar
13.000 Pasukan Paderi merebut pos Belanda di Tanjung Alam.

15 Agustus, Pasukan Paderi merebut Penampung, Kota Baru, dan
Lubuk Agam.


1823
Dengan adanya tambahan pasukan dari Batavia, Kolonel Raaff
melakukan serangan
ke Luhak Agam. Terjadi pertempuran sengit
di Bukit Marapalam, kemudian Biaro,
serta wilayah sekitar Gunung
Singgalang.

12 April, Belanda mengerahkan kekuatan terbesar sebanyak 26 opsir,
562
serdadu, dan 12.000 pasukan adat untuk menggempur Lintau,
namun serangan ini
berhasil dipatahkan.

1824
22 Januari, Belanda melakukan perjanjian gencatan senjata dengan
Pasukan
Paderi di Masang. Perjanjian ini hanya berlangsung sebulan,
setelahnya Belanda
melakukan serangan ke Luhak Agam dan Tanah Datar.
Pada pusat kedua luhak
tersebut, Belanda bertahan di benteng Fort de
Kock, yang sekarang wilayah di
sekitarnya berkembang menjadi Kota
Bukittinggi. Tuanku Imam Bonjol selanjutnya
memusatkan kekuatan
Pasukan Paderi di benteng Bonjol.
17 Maret, Inggris dan Belanda
menandatangani Treaty of London, yang membagi
wilayah jajahan :
Sumatera, Jawa, Maluku, Irian Jaya, dan sebagainya sebagai

wilayah Belanda; sedangkan Malaya, Singapura, dan Kalimantan
Utara sebagai
wilayah Inggris.

1825
Gerakan Paderi telah sampai ke Tapanuli Selatan. Raja Batak
Sisingamangaraja
X terbunuh dalam peperangan. Perang Jawa pecah
yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.
15 Nopember, Belanda
mengajukan gencatan senjata dengan mengakui
wilayah-wilayah
kekuasaan Paderi yang memang telah dikuasai oleh Pasukan
Paderi.
Belanda menarik 4300 pasukannya dari Minangkabau untuk berperang ke

Jawa, dan hanya menyisakan 700 pasukan yang ditempatkan di benteng-
benteng
Belanda.

1831
Dengan usainya Perang Jawa, Belanda berkonsentrasi kembali di
Minangkabau.
Katiagan sebagai kota pelabuhan Pasukan Paderi
dikuasai oleh Belanda. Kemudian
Belanda menguasai Bukit Marapalam.

1832
Belanda berhasil merebut Kapau, Kamang, dan Lintau. Keberhasilan
Belanda
dalam berbagai pertempuran serta kekejian yang ditinggalkannya
menggusarkan
Kaum Adat. Pada tahun 1832 ini dilakukan perjanjian
antara Pasukan Paderi dan
Kaum Adat untuk bersama-sama mengusir
Belanda dari Minangkabau. Tempat
perjanjian di Bukit Tandikat
di lereng Gunung Merapi. Versi lain yang beredar
umum selama ini
menyebutkan tempat perjanjian tersebut berlangsung di Bukit

Marapalam.

1833
11 Januari, dilakukan serangan oleh Pasukan Paderi, Kaum Adat,
bersama-sama
dengan seluruh masyarakat kepada Belanda.
Serangan ini berhasil memecah blokade
Belanda di Bonjol hingga
ke daerah Sipisang dan Alahan Panjang. Sedangkan untuk
wilayah
Luhak Agam dan Tanah Datar, belum terdapat koordinasi serangan.

Serangan ini menandai Perang Paderi tahap ketiga, yaitu perang
antara Belanda
dengan kesatuan masyarakat Minangkabau.
23 Agustus, Gubernur Jenderal Van den Bosch berkunjung ke Padang,
dan
memerintahkan penyerangan besar-besaran ke benteng Bonjol.
10-12 September, Jenderal Riesz memimpin pasukan dan mengerahkan
2.400 rakyat
Lima Puluh Koto, Agam, dan Batipuh yang setia kepada
Belanda untuk menyerang
benteng Bonjol. Namun serangan ini dapat
dipatahkan oleh Pasukan Paderi.

13-14 September, Mayor de Quay memimpin pasukan Belanda dari
Suliki untuk
menyerang basis pertahanan Paderi di Kota Lalang.
Serangan ini berhasil dengan
dikuasainya Kota Lalang oleh Belanda.
Namun dalam pengejaran di Air Papa,
pasukan Belanda dijebak
sehingga meninggalkan korban yang banyak sekali. Sisa
pasukan
kembali ke Payakumbuh. Sementara pasukan Jawa dan adat menjaga
Kota
Lalang.
11 September, Letnan Kolonel Elout memimpin serangan dari Manggopoh,
namun
dapat ditahan oleh Pasukan Paderi. Belanda bergerak mundur
ke Kota Merapak,
namun selama perjalanan mendapatkan banyak
serangan dari Pasukan Paderi
sehingga meninggalkan banyak korban
dan persenjataan.
Serangan Belanda dari utara dipimpin oleh Mayor
Eilers dengan kekuatan 80
prajurit. Dalam perjalanannya dari Rao
menuju Lubuk Sikaping mendapatkan
bantuan sekitar 2.000 masyarakat
lokal, sehingga melanjutkan perjalanannya
sampai ke Bonjol.
Tanggal 18 September 1833 pasukan ini telah sampai di Alai,

kurang lebih 2 km dari benteng Bonjol. Peperangan pecah, namun
pada tanggal 19
September 1833 pasukan ini dapat dipukul mundur
oleh Pasukan Paderi sehingga
meninggalkan korban yang sangat banyak.
21 September, Gubernur Jenderal Van den Bosch menerima pasukannya
yang kalah
di Padang, serta mengatur strategi untuk peperangan
berikutnya.

25 Oktober, Belanda dan Pasukan Paderi menandatangani perjanjian
damai
Plakaat Panjang, namun kemudiannya Belanda ingkar janji.

1834
Belanda berhasil merebut Matur dan Masang. Belanda juga berhasil
merebut
jalur pelayaran sungai ke timur yang melalui Sungai Rokan,
Kampar Kanan, dan
Kampar Kiri, serta wilayah Pelalawan. Sebenarnya
selama tahun 1834 ini tidak
ada peperangan yang terbuka antara
Pasukan Paderi melawan Belanda.


1835
16 April, Belanda memutuskan untuk melakukan serangan besar-
besaran ke
benteng Bonjol. 21 April, 2 kolonne pasukan Belanda
bergerak dari Matur dan Bamban menuju
Masang melalui jalur hutan.
23 April, pasukan Belanda telah sampai di tepi Sungai Batang
Ganting untuk
selanjutnya menuju Sipisang. Terjadi pertempuran
di sepanjang perjalanan selama
3 hari 3 malam, hingga akhirnya
Sipisang jatuh ke tangan Belanda.

24 April, 1 kolonne pasukan Belanda bergerak menuju Simawang
Gedang, dan
menghadapi pertempuran melawan 500 Pasukan Paderi.
Sementara itu 1 kompi
pasukan tentara Bugis dibantu pasukan adat
dari Batipuh dan Tanah Datar
bergerak mengusir Pasukan Paderi
di luar Simawang Gedang, sehingga Pasukan
Paderi terdesak hingga
ke Batang Kumpulan. Pertempuran besar terjadi, dimana
telah menunggu
1.200 Pasukan Paderi. Dengan bantuan pasukan Belanda, akhirnya

Kampung Melayu dapat dikuasai.
27 April, pasukan Belanda mengejar sisa Pasukan Paderi di sepanjang
lembah
terjal dan Sungai Air Taras, namun serangan ini dapat
dipatahkan.

3 Mei, dengan adanya tambahan dan konsolidasi pasukan, Belanda
melanjutkan
serangan. Namun baru serangan dimulai, Letnan
Kolonel Bauer komandan pasukan
Belanda telah terluka terkena
ranjau. Pertempuran pecah menjadi perang tanding
yang menguntungkan
Pasukan Paderi. Pasukan Belanda bergerak mundur dengan
melakukan
bumi hangus.

8 Juni, pasukan Belanda merebut Padang Lawas yang merupakan front
terdepan
Alahan Panjang.
16 Juni, pasukan Belanda telah sampai 250 langkah dari kampung
Bonjol.
Pertempuran pecah, Belanda menggunakan howitser, mortir,
dan meriam besar;
sementara Pasukan Paderi membalas dengan
menembakkan meriam dari Bukit Tajadi.
Karena posisi kurang
menguntungkan, Letnan Kolonen Bauer meminta tambahan
pasukan
dari Residen Francis sebanyak 2.000 pasukan.

21 Juni, dengan tambahan pasukan yang datang pada 17 Juni,
Belanda bergerak
maju mengepung benteng Bonjol. Sementara
di dalam benteng Bonjol telah
berkumpul komandan-komandan
Pasukan Paderi dari Tanah Datar, Lintau, Bua, Lima
Puluh Kota,
Agam, Rao dan Padang Hilir yang telah ditaklukkan Belanda.

Pada awal Agustus pasukan Belanda yang telah terkonsolidasi telah
mencapai
14.000 pasukan.
Pada pertengahan Agustus, dengan adanya tambahan pasukan Bugis,

Belanda mulai melakukan serangan.
5 September, Pasukan Paderi melancarkan serangan ke kubu-kubu
Belanda di luar
benteng Bonjol, dan menimbulkan korban jiwa yang
cukup besar dari kedua belah
pihak. Pasukan Paderi mengintensifkan
perang gerilya.

11 Desember, blokade yang berlarut-larut menimbulkan keberanian
rakyat untuk
memberontak, sehingga rakyat Alahan Panjang dan
Simpang melakukan perlawanan.
Hanya dengan bantuan pasukan Madura,
Belanda dapat memadamkan pemberontakan ini.
Setelah itu Belanda
cukup direpotkan dengan pemberontakan rakyat di daerah
taklukkan.
Sambil menunggu tambahan pasukan dari Batavia, Belanda mengajak

Pasukan Paderi untuk berunding, namun ditolak Tuanku Imam Bonjol.

1836
3 Desember, dengan datangnya tambahan pasukan dari Batavia,
Belanda melakukan
serangan besar-besaran ke benteng Bonjol.
Paha Tuanku Imam Bonjol terkena
tembakan termasuk terkena
13 tusukan. Serangan ini berhasil membunuh keluarga
dan anak
Tuanku Imam Bonjol. Namun serangan balik dari Pasukan Paderi
dapat
mengusir pasukan Belanda keluar dari benteng. Kegagalan
penaklukkan benteng Bonjol memukul Gubernur Jenderal Hindia
Belanda
di Batavia, sehingga untuk kesekian kalinya mengirim
panglima tertingginya
Mayor Jenderal Coclius ke Bukittinggi untuk
memimpin secara langsung serangan
ke Bonjol.

1837
Serangan besar-besaran dilakukan selama 8 bulan lamanya.
15 Agustus, Bukit Tajadi jatuh ke tangan Belanda.
16 Agustus, benteng Bonjol akhirnya jatuh ke tangan Belanda. Namun
Tuanku
Imam Bonjol berhasil melarikan diri ke daerah Marapak.
Tuanku Imam Bonjol mencoba mengkonsolidasi pasukannya yang
tercerai-berai,
namun hanya sedikit yang masih bertempur.
Melihat hal ini Tuanku Imam Bonjol menyerukan kepada pasukannya
yang terserak
di berbagai tempat untuk kembali ke kampung halaman
masing-masing untuk memulai
hidup baru sebagai rakyat biasa,
dan bila memang benar-benar tak memiliki lagi
semangat juang
dibenarkan untuk menyerah kepada Belanda.
Dalam pelarian dan
persembunyiannya, Tuanku Imam Bonjol menerima tawaran dari

Residen Francis di Padang untuk mengajak berunding. Setelah
menimbang dengan
staf-stafnya, tawaran ini diterima. Tempat
perundingan dipilih Palupuh, dimana
Tuanku Imam Bonjol akan
bertemu langsung dengan Residen Francis.
28 Oktober, Tuanku
Imam Bonjol bersama stafnya keluar dari Bukit Gadang
menuju
Palupuh. Namun sesampai di Palupuh, Tuanku Imam Bonjol bersama
stafnya
ditangkap oleh Belanda. Dari Palupuh Tuanku Imam Bonjol \
dibawa ke Bukittinggi,

dan terus ke Padang.

1838
23 Januari, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Cianjur, dan pada
akhir 1838
dipindahkan ke Ambon. Tuanku Tambusai melanjutkan
peperangan Paderi, di antaranya melalui
peperangan besar di Dalu-dalu;
namun akhirnya pada tahun 1838 ini seluruh
perjuangan Paderi dapat
dipatahkan oleh Belanda.


1839
19 Januari, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Manado, hingga
akhirnya
meninggal pada tanggal 6(8) Nopember 1984 setelah berada
di masa pembuangan
selama 27 tahun lamanya.

Sumber : Angku Dt Endang di milis rantau-net

0 Comments:

Post a Comment

<< Home