Wednesday, March 14, 2007

Perjalanan karirku

Perjalanan panjang karirku bermula dengan bekerja di PT Tokai Indonesia, disimpangan Depok.
Tidak lama setelah tamat dari bangku sekolah, di bulan juli '94 aku, Epi dan Af berangkat ke jakarta. Tiga bulan jadi pengangguran membuat perasaaanku tak menentu, betapa tidak, uang tidak punya dan mau balik kekampung itu bukan pilihan yg tepat. Akhirnya atas bantuan saudara sekampung Epi kami diterima bekerja di PT Tokai indonesia di Simpangan Depok pada bulan Oktober '94. tapi aku cuma bertahan 2 minggu disana karena waktu itu kami bekerja dibagian produksi.
Waktu itu aku terima pekerjaan tersebut sebagi loncatan pertama. rasa idealisku saat itu masih sangat tinggi, aku maunya kerja di lab sesuai dengan skill yang aku punya.
2 minggu setelah bekerja di Tokai, aku juga diterima bekerja di PT Karyatama Textilindo, di Tangerang. Banyak orang yang berjasa padaku, pertama suami Ni Yur, dia yang mengantarkan aku test ke kantor nya PT karyatama Textilindo, dikaret tensin. lau wa Kasin, dia yang mengantarkan aku mencari pabrik tsb ditangerang sekaligus mencarikan aku tempat kost. Juga uda Zal, yang telah membelikan aku pakaian untuk bekerja.
Disini aku diterima di lab, tugasku color matching.
Disini ada uda Jamroni, leader di lab trus juga pak sanusi sbg senior color matcher.
Tidak lama setelah itu juga masuk Rina, Rini dan Vivi dilab. Vivi adalah kepala Labnya.
Mba Vivi orangnya juga baik, kami semua perempuan masih gadis. Setelah bekeja disana aku masih terus mengirim lamaran dan mulai berkumpul dengan teman² alumni sekolahku. Cerita teman² yang bekerja dilaboratorium kimia membuatku semakin semangat untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan impianku. Berbagai informasi lowongan aku kirimkan lamaran, Pernah beberapa kali aku dipanggil test seperti di mustika ratu, rudi sutady, tapi ga ada yang sreg bagiku.
Serkitar bulan juni/july'94, mba Vivi memberikanku klipping lowongan di ANCRI dari kompas. Dia nyuruh aku buat lamaran dan pakai alamat dan telp nr rumahnya.
Alhamdulillah aku dipanggil test dan lulus. Dengan salary yang jauh lebih baik dibandingkan ditangerang dan lingkungan yang sangat baik untuk ku aku terima dan aku resign dari Karyatama. Karena aku memang ingin sekali kuliah... jika kesempatan itu datang.
Masuk di ANCRI kami diterima 8 orang (Aku, Yuni, Heri, Ari, Joko, Nardi, Heru, Dwi). Dari 8 orang ini samapi saat ini yang masih ada cuma 3 orang (aku, Heri, nardi).
Bulan juni 1997, aku ditarik ke color adm sbg assisten Melly, tidak lama setelah itu akhirnya tanggung jawab kami dibagi, Melly pegang warna internasional dan aku lokal. tahun 1998 mulai dibuat color swatch oleh propaganda, aku mulai membantu emnyipakan formula dan layout.

Awal september'96 aku resmi bergabung dengan ANCRI. Bersama dengan

Masih bisa kah aku ngeblog

Aku gak tahu, apakah besok dan seterusnya aku masih bisa ngeblog atau tidak, apakah aku masih bisa akses internet ato tidak ? Kalo tidak, betap menyedihkan....
Namun yang jelas, waktu luang sudah tidak banyak lagi seperti halnya di color doc, belum posisi mejaku dan kondisi disana yang kayaknya tidak nyaman untuk browsing...
Huh..... betapa keringnya hidup ini tanpa internet....

Good Bye Color Family

Hari ini adalah hari terakhir aku di color family, posisiku sebagai color documentation supervisor yang telah kupegang hampir 5 tahun ini akan aku letakkan. Aku akan mencoba tantangan baru yang lebih "seru" sebagai planner. Setelah melewati proses yang cukup lama akhirnya aku diterima di PP, Mulai besok aku sudah bergabung dengan PP, yang sama sekali berbeda dengan pekerjaan yang telah aku jalani selama 11 tahun terakhir.
Semua ini berkat support dari bossku Bu Lili, beliau orang sangat baik dan takkan pernah aku lupakan budi baik dan jasa-jasanya. Aku sangat bersyukur, selama di ANCRI aku mendapatkan atasan yang nyaman. Sebelum Bu Lili, bossku Paul Goedhart... orangnya juga sangat baik, nggak banyak tuntutan dan nyaman sekali bekerja dengan mereka.
Sebenarnya berat hatiku meninggalkan color family, indahnya kebersamaan disini dan beban kerja yang tidak terlalu berat membuatku betah sampai tak berasa hampir 11 tahun berlalu.
Aku berharap ditempat yang baru nanti, aku bisa masuk ke lingkungan mereka, baik dengan rekan kerja maupun dengan atasanku nanti, Pak bambang
Aku tidak tahu banyak tentang Pak bambang, tapi menurut orang² yang pernah aku dengar, beliau juga baik kok. Namun yang pasti load pekerjaan jauh lebih berat, dan aku perlu kerja keras untuk itu, Aku yakin, aku pasti bisa ....pasti

Tuesday, March 13, 2007

Mengendalikan yang dapat dikendalikan

Kita seringkali terlalu membuang-buang waktu dan tenaga merasa resah tentang hal-hal yang di luar pengendalian kita. Kita berusaha keras mengendalikan rang-orang atau hal-hal yang tidak terkendalikan, memanipulasi sana-sini dan mendapatkan dengan rasa frustasi bahwa segala upaya kita percuma saja. Empat dari hal-hal yang lazim tak terkendalikan dalam hidup kita adalah:

1. Orang lain
Kita tak dapat mengubah atau mengendalikan teman hidup, anak-anak, atasan, atau teman sekerja kita, walaupun kita ingin.

2. Warisan kita
Kita tak dapat memilih keluarga tempat kita dilahirkan, atau apakah kita dilahirkan sebagai anak laki-laki atau perempuan

3. Masa lalu kita
Ada di antara kita yang ingin mengubah sesuatu dari masa lalunya. Dosa-dosa, kesalahan, keputusan buruk, salah pilih tikungan - semuanya menghantui kita, dan kita sering membayangkan bagaimana hidup itu seandainya kita dapat mengendalikan masa lalu itu. Kita tahu, tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mengubah masa lalu kita.

4. Lingkungan kita dan keadaan sekitar
Ada banyak hal-hal lingkungan dalam hidup kita yang tak terkendalikan:
keadaan ekonomi, pengemudi mabuk yang melenceng melenceng mobilnya sehingga menabrak mobil Anda, biaya hidup, cuaca, dan sebagainya.

Kalau kita berusaha mengendalikan yang tak terkendalikan, hampir selalu berakhir dengan rasa frustasi dan kekecewaan, dan kita sangat merugikan diri kita. Kalau kita coba mengendalikan orang-orang yang tak terkendalikan dalam hidup kita, apa yang sebenarnya terjadi adalah bahwa kita membiarkan mereka menghancurkan sukacita kita. Mengetahui bahwa kita tidak dapat mengendalikan mereka tetapi masih terus berusaha, membuat kita berada dalam kuasa mereka.
Kebahagiaan kita, damai sejahtera, atau kesenangan kita bergantung dari kelakuan, prestasi atau sikap mereka. Kemudian, ketika kita frustasi karena kita tidak dapat mengendalikan yang tak terkendalikan, kita cenderung melampiaskan kekecewaan kita pada Tuhan.
Persekutuan kita terputus dan kita menderita karena tidak mendapat kasih dan kekuatanNya untuk membantu kita. Tuhan tidak menelantarkan kita; Ia tidak meninggalkan atau mengabaikan kita. Tuhan mampu dan siap untuk mengambil hal atau orang yang tak terkendalikan dan memikul beban itu bagi Anda. Ia berada di sana untuk memberi Anda segala bantuan dan dukungan yang Anda butuhkan.
Tuhan tidak akan ambil alih sebelum Anda mengaku bahwa permasalahannya sudah di luar pengendalian Anda.

Ada hal-hal dalam hidup kita yang dapat kita kendalikan :

1. Hubungan kita dengan Tuhan
Hal itu memerlukan rasa terikat, disiplin dan keinginan. Bila hubungan Anda dengan Tuhan lebih penting daripada apapun, Anda memiliki kekuatan untuk mengatasi hal yang tak terkendalikan.

2. Pikiran kita.
Jika Anda mempunyai kecenderungan memikir-mikirkan hal-hal yang salah, membayangkan yang paling buruk, memikirkan hal-hal negatif, dan membiarkan pikiran Anda dikendalikan oleh keadaan sekitar, Anda tak akan pernah menang atas hal yang tak terkendalikan.

3. Lidah kita.
Begitu banyak kerusakan terjadi setiap hari karena lidah-lidah yang tidak terkendali. Betapa perlunya kita mengendalikan lidah kita dan kata-kata yang kita ucapkan. Hubungan akan sangat membaik jika kita dapat mengendalikan lidah kita.

4. Sikap kita
Sekalipun keadaanmu begitu buruk, tidak ada yang dapat memaksamu bersikap buruk kalau Anda sendiri tidak mau, dan sekalipun keadaanmu begitu baik, tidak ada yang dapat memaksamu bersikap baik kalau Anda sendiri tidak mau.
Sikap kita merupakan pilihan kita sendiri.

5. Integritas kita.
Kita dapat mengendalikan integritas kita. Apakah Anda bertindak jujur sepenuhnya dalam semua bidang kehidupan ? Apakah Anda dikenal sebagai orang yang dapat diandalkan ?

Jika kita menggunakan waktu dan tenaga kita hanya untuk mengendalikan yang dapat kita kendalikan, akan tersisa cukup kekuatan dan kearifan untuk menangani hal-hal yang tak terkendalikan. Kita tidak banyak membuang-buang waktu mengalami frustasi karena orang-orang atau hal-hal yang tak terkendalikan, karena kita terlalu sibuk untuk mengendalikan yang terkendalikan. Jika Anda dapat mengendalikan yang dapat dikendalikan, Anda dapat menangani yang tidak terkendalikan.

Sumber : Bagaimana Tetap Bertumbuh Berkembang Dari Jam 9 Pagi Sampai Jam 5 Sore oleh Mary Whelchel ("How to remain growing from 9 am to 5 pm" by Mary Whelchel - Professional Books Publisher)

Monday, March 12, 2007

Bajalan babuah tangan, malenggang babuah batih

Tadi saat membaco Singgalang, ada tulisan yang sangat penting yang akhir - akhir semakin terlupakan. Begini bunyi kalimatnya ." Apo salahnyo, salaku urang Minang awak baputiah kapeh dapek diliek, putiah hati bakaadaan. Bajalan babuah tangan, malenggang babuah batih. Alah jaleh mancaliak dunsanak nan sadang susah, sarancaknyo mambao tando baputiah hati tu.

Kalimat ini mengingatkan aku betapa pentingnya membawa buah tangan kalo kita berkunjung kerumah kerabat atau teman. Pantesan Abak selalu mengingatkan untuk membawa buah tangan kalo mau mengunjungi dunsanak. Abak selalu bilang, ndak rancak awak malenggang sajo, bawaolah buah tangan, tandonyo awak urang tahu adaik.

Keponakanku lahir disaat gempa

Dua hari setelah gempa bumi meluluh lantakan ranah bundo, kakakku Kak Edar melahirkan di RSUD Padang Panjang, Karena keterbatasan tempat , setelah dua puluh empat jam pasien disuruh pulang sama pihak rumah sakit. Keponakan ku diberi nama Muhammad Genta, menurut kakakku karena dia lahir disaat gempa dan tinggal semua orang tinggal ditenda. kasihan sekali Si kecil, harus tinggal di tenda.. karena orang masih takut tinggal dalam rumah.

Wednesday, March 7, 2007

Pesawat Garuda terbakar

Innalillahi Wainnalillahi rajiun....
Ga tau gimana lagi harus menulis .... kembali negeri ini ditimpa musibah. Belum kering uraian air mata saudara²ku di ranah minang, masih tidur di tenda² mereka karena gempa susulan masih terus terjadi, tadi pagi jam 7.00 WIB kembali musibah terjadi...pesawat garuda Boeing 737-400 dg flight GA200 jurusan jkt-yogya terbakar saat mau landing di bandara adisucipto, yogya.
Pesawat naas itu berangkat dari bandara Sukarno-Hatta jam 6.00 WIB dan membawa 133 penumpang dan 7 awak pesawat. Jumlah korban meninggal masih simpang siur, ada yg bilang 21, 28, 49 orang. Dari media diberitakan kalo Pak Din Syamsuddin Ketua PP Muhamadyah merupakan salah seorang korban yang selamat. Beliau ke Yogya karena pertemuan dg menlu Australia, Mr. Downer.... Diantara penumpang itu juga ada WNA, 8 orang diantaranya juga ada jurnalis australia, namun namun mereka belum diketahui.
Kotak hitam pesawat telah ditemukan.


















Tuesday, March 6, 2007

A powerful earthquake in my hometown

Kampung halaman ku kembali berduka, belum kering airmata setelah istano basa pagaruyung terbakar beberapa hari yang lalu... kini ranah bundo kembali menangis. Gempa Vulkanik berskala 5.8 skala ricker telah meluluh lantahkan ranah bundo tercinta. Korban meninggal semakin bertambah, berita terakhir telah mencapai 58 orang yang meninggal dan tak terhitung yang luka-luka. Pusat gempa 18 km barat daya batusangkar. Dari tadi cuma raga ku yanga da disini tapi pikiran terbang jauh kesana, kampung halaman seakan memanggil tuk pulang...
dari komunikasi dg adikku, rumahku dan lapau ga apa², cuma barang pecah belah yg pecah, tapi rumah bako dibatu lipai rusak parah. Nanda bilang rumah Etek Mur dapur dan rumahnya terpisah, dapur sudah tak bisa digunakan lagi, sedangkan rumah Etek Man, 3 tiangnya roboh...Informasi lengkapnya belum bisa diperoleh, sebab komunikasi via HP terputus, tidak bisa konnect

Friday, March 2, 2007

Jamarin, Kepala Tukang Istano Pagaruyung, Diselimuti Kesedihan Sebelum Kebakaran

Replika Istano Pagaruyung kini hanya tinggal tiang-tiang beton. Jamarin, hanya bisa terpangu menatap bangunan yang pernah dikerjakannya 30 tahun silam itu, rata dengan tanah.Guratan garis wajah Jamarin, terlihat begitu jelas. Usia yang telah memasuki 78 tahun, tak menghapuskan ingatannya, mengenang kerja kerasnya membangun replika Istano Pagaruyung.

Matanya tak lepas memandang bangunan yang hanya tinggal rangka. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Apakah dia terkenang bagaimana perjuangannya mengerjakan bangunan tersebut, atau dia sedang berhiba hati ketika hasil karyanya dikalahkan si jago merah.
Jamarin, pria yang ketika mengerjakan Istano Pagaruyung di tahun 1977 menjadi kepala pekerja bangunan (kepala tukang). Pria ini bukan saja berpengalaman mengerjakan pembangunan replika rumah adat Minangkabau di Indonesia. Di tahun 2005 lalu, dirinya membangun di Bali, kemudian di dua rumah di Malaysia. Begitu juga rumah milik Ny Mursidah Kalla di Lintau, juga pernah dikerjakannya.
Pengalamannya memang begitu banyak. Namun, kenangannya ketika membangun replika Istano Pagayurung menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Kenapa tidak. Bangunan ini menjadi bangunan termegah yang pernah dikerjakannnya, bukan hanya sebagai milik masyarakat Tanahdatar, tapi juga sebagai milik masyarakat Sumbar.
Pria asal Kumbanglandai, Kecamatan Tanjungameh ini, tak merasakan firasat apa-apa menjelang terbakarnya Istano tersebut. Namun, dua hari sebelum kejadian, Jamarin selalu berhiba hati. Pria ini tidak mengetahui apa yang menyebabkan perasaannya seperti itu.
“Dua hari sebelum terbakar, rasanya selalu berhiba hati. Padahal tidak ada kejadian apa-apa. Begitu juga saat kejadian. Meskipun terlihat percikan api, tidak ada firasat sedikit pun,” ujar pria yang tinggal 5 kilometer dari replica Istano Pagaruyung ini.
Sewaktu pengerjaan, Jamarin mendapat jatah membuat tiang bangunan, rangka atap dan dinding. Menurutnya, bangunan tersebut memiliki 11 gonjong, 9 ruang dan 72 tiang.
Hampir tiga tahun, bangunan tersebut baru dapat diselesaikan. Meskipun telah diletakkan tunggak tuo (tiang utama) 27 Desember 1976, namun pengerjaannya dilakukan sekitar bulan April 1977.
Untuk bagian atap membutuhkan sekitar 800 ton ijuk. Sedangkan untuk kayu, Jamarin tidak bisa mengingatnya. Namun, kayu yang digunakan jenis surian. Umumnya, kayu ini banyak ditemui di Bukittinggi. Waktu itu, Jamarin mengerjakan 40 pekerja untuk pembangunan bangunan tersebut.
Sebelum pembangunan, kata Jamarin, dilakukan pemotongan satu kerbau, agar pengerjaan dapat berjalan lancar.
“Biasanya, selama ini kita selalu melakukan doa di Lubuaksati agar terjaga keselamatan. Namun, semenjak dua tahun belakangan kegiatan tersebut, tidak pernah dilakukan lagi,” katanya.
Meski usia telah senja, semangatnya tak pernah luntur. Bahkan, dirinya siap jika diminta untuk mengerjakan pembangunan istano itu kembali. Dirinya hanya bisa berharap agar bangunan ini bisa dibangun sesegera mungkin, sehingga berdiri kembali dengan gagah.
“Saya siap jika diminta untuk mengerjakannya kembali. Kapan pun diminta,” ujar Jamarin dengan semangat. (***)

sumber : www.padangekspres.co.id

Sejarah Perang Paderi

Banyak versi mengenai Perang Paderi di Minangkabau. Penulis 
menemukan catatan yang cukup rinci mengenai peperangan ini
dari catatan Abdul Qadir Djaelani yang tersimpan dalam milis
Apakabar (tahun 2000) di internet, yang diperkirakan merupakan
terjemahan dari arsip yang dimiliki oleh Belanda pada saat itu.
Dengan meringkas, mencocokkan, dan menambahkan dari sumber-
sumber lain, riwayat Perang Paderi ini dapat dibaca sebagai
berikut :

1802
3 orang haji yang lama bermukim di Mekah kembali ke Minangkabau,
yaitu Haji Miskin dari Pandai Sikat (Luhak Agam), Haji Abdur
Rahman dari Piabang (Luhak Lima Puluh Koto) dan Haji Muhammad
Arief dari Sumanik (Luhak Tanah Datar).
Mereka membawa paham Wahabi (dari Muhammad bin Abdul Wahab
1703-1787) yang sangat keras dalam menjunjung praktek keagamaan.

1803
Gerakan Paderi bermula di Minangka-bau, dan mendapatkan tentangan
yang cukup
keras dari masyarakat. Haji Muhammad Arief akhirnya
pindah ke Lintau, Haji
Miskin pindah ke Ampat Angkat, dan hanya
Haji Abdur Rahman yang tidak
mendapatkan perlawanan.
Perpindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat disambut hangat oleh
Tuanku nan
Renceh dari Kamang, Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku
di Padang Lawas, Tuanku di
Koto Padang Luar, Tuanku di Galung,
Tuanku di Koto Ambalau, dan Tuanku di Lubuk
Aur. Mereka berbai’ah,
kemudian kelompok ini dikenal sebagai Harimau nan

Salapan. Mereka mengharapkan dukungan dari Tuanku nan Tuo di
Ampat Angkat;
namun ditolak dan akhirnya mengangkat Tuanku
di Mansiangan putera dari Tuanku
nan Tuo sebagai pemimpin.
Pada kenyataannya kelompok tersebut dipimpin oleh
Tuanku nan
Renceh. Pasukan Paderi ini mengenakan pakaian putih-putih sebagai
lambang perjuangan suci mereka. Kaum adat menantang gerakan
Paderi ini dengan mengadakan perhelatan adat yang
penuh dengan
kemaksiatan, seperti : menyabung ayam, berjudi, minum minuman

keras, madat, dan sebagainya bertempat antara Bukit Batabuah
dengan Sungai Puar
(sebagian kisah menyebutkan Pandai Sikek)
di lereng Gunung Merapi. Tantangan
ini ditanggapi oleh Pasukan
Paderi sehingga menyerbu tempat tersebut, dan ini
memulai Perang
Paderi (tahap pertama) yang meliputi peperangan antara Pasukan

Paderi dengan Kaum Adat.

1804
Peperangan Paderi berlanjut ke Kamang, Tilatang, Padang Rarab,
Guguk,
Candung, Matur, sehingga pada tahun 1804 seluruh Luhak
Tanah Agam telah berada
dalam kekuasaan Paderi. Tahun-tahun
setelah itu Pasukan Paderi menguasai Luhak
Lima Puluh Koto,
dengan tanpa perlawanan yang berarti. Operasi Pasukan Paderi

ke Luhak Tanah Datar mengalami perlawanan yang berimbang,
terutama karena di
luhak ini merupakan pusat kekuasaan Kerajaan
Minangkabau yang bertempat di
Pagarruyung.

1806
Republik Batavia Belanda berubah kembali menjadi Kerajaan
Belanda, tapi masih
dalam pengaruh Perancis. Tahun 1807
Belanda menunjuk H.W. Daendels sebagai
Gubernur Jenderal
Hindia Belanda. Inggris mulai agresif menguasai
wilayah-
wilayah jajahan.


1808
Setelah melalui perjuangan yang panjang, pada tahun 1808
dilakukan
perundingan antara Pasukan Paderi dengan Raja
Pagarruyung di Koto Tangah. Raja
Sultan Arifin Muning Alam
Syah datang bersama staf kerajaan dan sanak keluarga,

sedangkan dari Pasukan Paderi hadir Tuanku Lintau lengkap
bersama seluruh
pasukannya. Karena terjadi perselisihan paham
antara Tuanku Belo dan staf
kerajaan, akhirnya terjadi pertikaian
yang mengakibatkan rombongan raja
terbunuh. Sebuah versi
menyebutkan raja berhasil melarikan diri. Beberapa
penghulu
dan cucu raja berhasil menyelamatkan diri sampai ke Sijunjung dan

Kuantan – Lubuk Jambi. Akibat peristiwa ini Tuanku nan Renceh
sangat marah
kepada Tuanku Lintau; begitupun seluruh Luhak
Tanah Datar berhasil dikuasai
oleh Pasukan Paderi. Beberapa waktu
setelah itu Tuanku nan Renceh memerintahkan muridnya, Peto

Syarif atau Muhammad Syahab atau kemudian dikenal dengan sebutan
Tuanku Imam
Bonjol untuk membuat benteng di Bukit Tajadi sekitar
Alahan Panjang. Benteng
dibangun pada areal seluas 90 hektar, dengan
tembok setinggi 4 meter dan tebal
3 meter. Lokasi Alahan Panjang ini
yaitu di hulu sungai Alai Panjang, sebuah
tempat antara Kota Lubuk
Sikaping dan negeri Bonjol, dan pada saat ini berada
di tepi jalan
lintas Sumatera.


1812
Hamengkubuwono II ditangkap oleh Inggris kemudian diasingkan ke
Padang.
Kaum adat di Alahan Panjang dengan pimpinan Datuk Sati
menyerbu Benteng
Bonjol, namun penyerangan ini mengalami
kegagalan. Selanjutnya Datuk Sati
melakukan perdamaian dengan
Pasukan Paderi, sehingga sejak saat itu Pasukan
Paderi menguasai
seluruh Alahan Panjang.
Keberhasilan Tuanku Imam Bonjol,
menyebabkan beliau ditugaskan untuk memimpin
Pasukan Paderi
di Pasaman. Beliau memimpin pasukan mulai dari Lubuk Sikaping,

Rao, Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku, dan seluruh pantai barat
Minangkabau
sebelah utara.

1814
Belanda melepaskan diri dari pengaruh Perancis. Inggris setuju
menyerahkan
Hindia Belanda kepada Belanda.

1815
Peperangan Paderi di Minangkabau telah menelan korban yang
cukup besar.
Pasukan Paderi telah menguasai Pasaman, selanjutnya
Pasukan Paderi mengarahkan
perjuangannya ke Tapanuli Selatan.
Tuanku Imam Bonjol menunjuk Tuanku Rao untuk
memimpin
benteng di Rao, sedangkan Tuanku Tambusai memimpin benteng di

Dalu-dalu.

1818
Sutan Muning Alam Syah (raja Minangkabau di wilayah pelarian)
mengutus Tuanku
Tangsir Alam dan Sutan Kerajaan Alam untuk
menemui Jenderal Inggris Sir
Stamford Raffles di Padang. Namun
Gubernur Jenderal Inggris Lord Minto yang
berkedudukan di Calcutta
India menolak campur tangan terhadap permasalahan di
Minangkabau.

1819
Belanda masuk ke Padang. Raffles yang sebelumnya menjadi Gubernur
Jenderal
Inggris di Bengkulu dan pindah ke Singapura, mulai menghasut
rakyat Minangkabau
untuk membenci Belanda.
Tuanku Pamansiangan di Luhak Agam meminta Tuanku Imam Bonjol
untuk menarik
pasukannya dari Tapanuli untuk menghadapi Belanda
di Padang. Namun keinginan
ini ditolak oleh Tuanku Rao, Tuanku
Tambusai, dan Tuanku Lelo, sehingga Tuanku
Imam Bonjol hanya
memantau gerakan Belanda dari kejauhan.


1820
Tuanku nan Renceh meninggal dunia, selanjutnya kepemimpinan
Pasukan Paderi
diserahkan secara mufakat kepada Tuanku Imam
Bonjol.
Belanda mulai menyebarkan pengaruh di Minangkabau.

1821
Mulainya perang Paderi (tahap kedua) di Minangkabau, yang meliputi
peperangan
antara Pasukan Paderi melawan Belanda, yang kemudiannya
Belanda dibantu oleh
Kaum Adat. Peperangan sengit berlangsung di 3
tempat, yaitu : Simawang untuk
menyerang kubu Pasukan Paderi di
Sulit Air, Air Bangis, dan Lintau. Peperangan
di Air Bangis mengakibatkan
Tuanku Rao gugur dalam pertempuran.
Peperangan bermula dari
pertemuan 14 orang Penghulu yang mengatasnamakan Yang
Dipertuan
Minangkabau mengikat perjanjian dengan Residen Belanda di Padang

bernama Du Puy untuk memerangi Pasukan Paderi, terjadi pada tanggal
10 Februari
1821. Belanda kemudian mengerahkan 100 pasukan dan 2
meriam di bawah pimpinan
Letnan Kolonel Raaff untuk menggempur
pertahanan Paderi di Simawang. Dengan
susah payah Belanda akhirnya
menguasai Sulit Air, Simabur, dan Gunung.
Belanda membangun benteng
Fort de Kock di Bukittinggi.
Belanda memasuki Batusangkar,
kemudian membangun benteng Fort van der
Capellen.

1822
Belanda menyerang Pagarruyung, sehingga Pasukan Paderi mundur
ke Lintau.
Penyerangan Belanda ke Lintau dapat dipatahkan.
Selanjutnya Belanda memblokade
Lintau, dan secara bertahap
merebut Tanjung Alam, Koto Lawas, Pandai Sikat, dan
Gunung dalam
rangka menguasai Luhak Agam. Tuanku Pamansiangan dapat ditangkap,

selanjutnya dihukum gantung oleh Belanda. Tuanku Imam Bonjol
melancarkan serangan balasan ke Air Bangis, walau gagal,
selanjutnya
melancarkan serangan ke Luhak Agam, dan berhasil menguasai kembali

Sungai Puar, Gunung, Sigandang, dan daerah lainnya. Juli, sekitar
13.000 Pasukan Paderi merebut pos Belanda di Tanjung Alam.

15 Agustus, Pasukan Paderi merebut Penampung, Kota Baru, dan
Lubuk Agam.


1823
Dengan adanya tambahan pasukan dari Batavia, Kolonel Raaff
melakukan serangan
ke Luhak Agam. Terjadi pertempuran sengit
di Bukit Marapalam, kemudian Biaro,
serta wilayah sekitar Gunung
Singgalang.

12 April, Belanda mengerahkan kekuatan terbesar sebanyak 26 opsir,
562
serdadu, dan 12.000 pasukan adat untuk menggempur Lintau,
namun serangan ini
berhasil dipatahkan.

1824
22 Januari, Belanda melakukan perjanjian gencatan senjata dengan
Pasukan
Paderi di Masang. Perjanjian ini hanya berlangsung sebulan,
setelahnya Belanda
melakukan serangan ke Luhak Agam dan Tanah Datar.
Pada pusat kedua luhak
tersebut, Belanda bertahan di benteng Fort de
Kock, yang sekarang wilayah di
sekitarnya berkembang menjadi Kota
Bukittinggi. Tuanku Imam Bonjol selanjutnya
memusatkan kekuatan
Pasukan Paderi di benteng Bonjol.
17 Maret, Inggris dan Belanda
menandatangani Treaty of London, yang membagi
wilayah jajahan :
Sumatera, Jawa, Maluku, Irian Jaya, dan sebagainya sebagai

wilayah Belanda; sedangkan Malaya, Singapura, dan Kalimantan
Utara sebagai
wilayah Inggris.

1825
Gerakan Paderi telah sampai ke Tapanuli Selatan. Raja Batak
Sisingamangaraja
X terbunuh dalam peperangan. Perang Jawa pecah
yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.
15 Nopember, Belanda
mengajukan gencatan senjata dengan mengakui
wilayah-wilayah
kekuasaan Paderi yang memang telah dikuasai oleh Pasukan
Paderi.
Belanda menarik 4300 pasukannya dari Minangkabau untuk berperang ke

Jawa, dan hanya menyisakan 700 pasukan yang ditempatkan di benteng-
benteng
Belanda.

1831
Dengan usainya Perang Jawa, Belanda berkonsentrasi kembali di
Minangkabau.
Katiagan sebagai kota pelabuhan Pasukan Paderi
dikuasai oleh Belanda. Kemudian
Belanda menguasai Bukit Marapalam.

1832
Belanda berhasil merebut Kapau, Kamang, dan Lintau. Keberhasilan
Belanda
dalam berbagai pertempuran serta kekejian yang ditinggalkannya
menggusarkan
Kaum Adat. Pada tahun 1832 ini dilakukan perjanjian
antara Pasukan Paderi dan
Kaum Adat untuk bersama-sama mengusir
Belanda dari Minangkabau. Tempat
perjanjian di Bukit Tandikat
di lereng Gunung Merapi. Versi lain yang beredar
umum selama ini
menyebutkan tempat perjanjian tersebut berlangsung di Bukit

Marapalam.

1833
11 Januari, dilakukan serangan oleh Pasukan Paderi, Kaum Adat,
bersama-sama
dengan seluruh masyarakat kepada Belanda.
Serangan ini berhasil memecah blokade
Belanda di Bonjol hingga
ke daerah Sipisang dan Alahan Panjang. Sedangkan untuk
wilayah
Luhak Agam dan Tanah Datar, belum terdapat koordinasi serangan.

Serangan ini menandai Perang Paderi tahap ketiga, yaitu perang
antara Belanda
dengan kesatuan masyarakat Minangkabau.
23 Agustus, Gubernur Jenderal Van den Bosch berkunjung ke Padang,
dan
memerintahkan penyerangan besar-besaran ke benteng Bonjol.
10-12 September, Jenderal Riesz memimpin pasukan dan mengerahkan
2.400 rakyat
Lima Puluh Koto, Agam, dan Batipuh yang setia kepada
Belanda untuk menyerang
benteng Bonjol. Namun serangan ini dapat
dipatahkan oleh Pasukan Paderi.

13-14 September, Mayor de Quay memimpin pasukan Belanda dari
Suliki untuk
menyerang basis pertahanan Paderi di Kota Lalang.
Serangan ini berhasil dengan
dikuasainya Kota Lalang oleh Belanda.
Namun dalam pengejaran di Air Papa,
pasukan Belanda dijebak
sehingga meninggalkan korban yang banyak sekali. Sisa
pasukan
kembali ke Payakumbuh. Sementara pasukan Jawa dan adat menjaga
Kota
Lalang.
11 September, Letnan Kolonel Elout memimpin serangan dari Manggopoh,
namun
dapat ditahan oleh Pasukan Paderi. Belanda bergerak mundur
ke Kota Merapak,
namun selama perjalanan mendapatkan banyak
serangan dari Pasukan Paderi
sehingga meninggalkan banyak korban
dan persenjataan.
Serangan Belanda dari utara dipimpin oleh Mayor
Eilers dengan kekuatan 80
prajurit. Dalam perjalanannya dari Rao
menuju Lubuk Sikaping mendapatkan
bantuan sekitar 2.000 masyarakat
lokal, sehingga melanjutkan perjalanannya
sampai ke Bonjol.
Tanggal 18 September 1833 pasukan ini telah sampai di Alai,

kurang lebih 2 km dari benteng Bonjol. Peperangan pecah, namun
pada tanggal 19
September 1833 pasukan ini dapat dipukul mundur
oleh Pasukan Paderi sehingga
meninggalkan korban yang sangat banyak.
21 September, Gubernur Jenderal Van den Bosch menerima pasukannya
yang kalah
di Padang, serta mengatur strategi untuk peperangan
berikutnya.

25 Oktober, Belanda dan Pasukan Paderi menandatangani perjanjian
damai
Plakaat Panjang, namun kemudiannya Belanda ingkar janji.

1834
Belanda berhasil merebut Matur dan Masang. Belanda juga berhasil
merebut
jalur pelayaran sungai ke timur yang melalui Sungai Rokan,
Kampar Kanan, dan
Kampar Kiri, serta wilayah Pelalawan. Sebenarnya
selama tahun 1834 ini tidak
ada peperangan yang terbuka antara
Pasukan Paderi melawan Belanda.


1835
16 April, Belanda memutuskan untuk melakukan serangan besar-
besaran ke
benteng Bonjol. 21 April, 2 kolonne pasukan Belanda
bergerak dari Matur dan Bamban menuju
Masang melalui jalur hutan.
23 April, pasukan Belanda telah sampai di tepi Sungai Batang
Ganting untuk
selanjutnya menuju Sipisang. Terjadi pertempuran
di sepanjang perjalanan selama
3 hari 3 malam, hingga akhirnya
Sipisang jatuh ke tangan Belanda.

24 April, 1 kolonne pasukan Belanda bergerak menuju Simawang
Gedang, dan
menghadapi pertempuran melawan 500 Pasukan Paderi.
Sementara itu 1 kompi
pasukan tentara Bugis dibantu pasukan adat
dari Batipuh dan Tanah Datar
bergerak mengusir Pasukan Paderi
di luar Simawang Gedang, sehingga Pasukan
Paderi terdesak hingga
ke Batang Kumpulan. Pertempuran besar terjadi, dimana
telah menunggu
1.200 Pasukan Paderi. Dengan bantuan pasukan Belanda, akhirnya

Kampung Melayu dapat dikuasai.
27 April, pasukan Belanda mengejar sisa Pasukan Paderi di sepanjang
lembah
terjal dan Sungai Air Taras, namun serangan ini dapat
dipatahkan.

3 Mei, dengan adanya tambahan dan konsolidasi pasukan, Belanda
melanjutkan
serangan. Namun baru serangan dimulai, Letnan
Kolonel Bauer komandan pasukan
Belanda telah terluka terkena
ranjau. Pertempuran pecah menjadi perang tanding
yang menguntungkan
Pasukan Paderi. Pasukan Belanda bergerak mundur dengan
melakukan
bumi hangus.

8 Juni, pasukan Belanda merebut Padang Lawas yang merupakan front
terdepan
Alahan Panjang.
16 Juni, pasukan Belanda telah sampai 250 langkah dari kampung
Bonjol.
Pertempuran pecah, Belanda menggunakan howitser, mortir,
dan meriam besar;
sementara Pasukan Paderi membalas dengan
menembakkan meriam dari Bukit Tajadi.
Karena posisi kurang
menguntungkan, Letnan Kolonen Bauer meminta tambahan
pasukan
dari Residen Francis sebanyak 2.000 pasukan.

21 Juni, dengan tambahan pasukan yang datang pada 17 Juni,
Belanda bergerak
maju mengepung benteng Bonjol. Sementara
di dalam benteng Bonjol telah
berkumpul komandan-komandan
Pasukan Paderi dari Tanah Datar, Lintau, Bua, Lima
Puluh Kota,
Agam, Rao dan Padang Hilir yang telah ditaklukkan Belanda.

Pada awal Agustus pasukan Belanda yang telah terkonsolidasi telah
mencapai
14.000 pasukan.
Pada pertengahan Agustus, dengan adanya tambahan pasukan Bugis,

Belanda mulai melakukan serangan.
5 September, Pasukan Paderi melancarkan serangan ke kubu-kubu
Belanda di luar
benteng Bonjol, dan menimbulkan korban jiwa yang
cukup besar dari kedua belah
pihak. Pasukan Paderi mengintensifkan
perang gerilya.

11 Desember, blokade yang berlarut-larut menimbulkan keberanian
rakyat untuk
memberontak, sehingga rakyat Alahan Panjang dan
Simpang melakukan perlawanan.
Hanya dengan bantuan pasukan Madura,
Belanda dapat memadamkan pemberontakan ini.
Setelah itu Belanda
cukup direpotkan dengan pemberontakan rakyat di daerah
taklukkan.
Sambil menunggu tambahan pasukan dari Batavia, Belanda mengajak

Pasukan Paderi untuk berunding, namun ditolak Tuanku Imam Bonjol.

1836
3 Desember, dengan datangnya tambahan pasukan dari Batavia,
Belanda melakukan
serangan besar-besaran ke benteng Bonjol.
Paha Tuanku Imam Bonjol terkena
tembakan termasuk terkena
13 tusukan. Serangan ini berhasil membunuh keluarga
dan anak
Tuanku Imam Bonjol. Namun serangan balik dari Pasukan Paderi
dapat
mengusir pasukan Belanda keluar dari benteng. Kegagalan
penaklukkan benteng Bonjol memukul Gubernur Jenderal Hindia
Belanda
di Batavia, sehingga untuk kesekian kalinya mengirim
panglima tertingginya
Mayor Jenderal Coclius ke Bukittinggi untuk
memimpin secara langsung serangan
ke Bonjol.

1837
Serangan besar-besaran dilakukan selama 8 bulan lamanya.
15 Agustus, Bukit Tajadi jatuh ke tangan Belanda.
16 Agustus, benteng Bonjol akhirnya jatuh ke tangan Belanda. Namun
Tuanku
Imam Bonjol berhasil melarikan diri ke daerah Marapak.
Tuanku Imam Bonjol mencoba mengkonsolidasi pasukannya yang
tercerai-berai,
namun hanya sedikit yang masih bertempur.
Melihat hal ini Tuanku Imam Bonjol menyerukan kepada pasukannya
yang terserak
di berbagai tempat untuk kembali ke kampung halaman
masing-masing untuk memulai
hidup baru sebagai rakyat biasa,
dan bila memang benar-benar tak memiliki lagi
semangat juang
dibenarkan untuk menyerah kepada Belanda.
Dalam pelarian dan
persembunyiannya, Tuanku Imam Bonjol menerima tawaran dari

Residen Francis di Padang untuk mengajak berunding. Setelah
menimbang dengan
staf-stafnya, tawaran ini diterima. Tempat
perundingan dipilih Palupuh, dimana
Tuanku Imam Bonjol akan
bertemu langsung dengan Residen Francis.
28 Oktober, Tuanku
Imam Bonjol bersama stafnya keluar dari Bukit Gadang
menuju
Palupuh. Namun sesampai di Palupuh, Tuanku Imam Bonjol bersama
stafnya
ditangkap oleh Belanda. Dari Palupuh Tuanku Imam Bonjol \
dibawa ke Bukittinggi,

dan terus ke Padang.

1838
23 Januari, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Cianjur, dan pada
akhir 1838
dipindahkan ke Ambon. Tuanku Tambusai melanjutkan
peperangan Paderi, di antaranya melalui
peperangan besar di Dalu-dalu;
namun akhirnya pada tahun 1838 ini seluruh
perjuangan Paderi dapat
dipatahkan oleh Belanda.


1839
19 Januari, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Manado, hingga
akhirnya
meninggal pada tanggal 6(8) Nopember 1984 setelah berada
di masa pembuangan
selama 27 tahun lamanya.

Sumber : Angku Dt Endang di milis rantau-net

Thursday, March 1, 2007

Istana basa pagaruyung....


Keberadaan Istano tiga lantai yang terletak sekitar 4 Km dari Ibukota Kabupaten itu, memang tidak bisa dipisahkan dari pasang-surut etnis Minang. Dalam sejarahnya, istano ini sudah empat kali dipindah-tempatkan. Lokasi pertama kerajaan terletak di Ateh Bukik Batu Patah Jorong Gudam, selanjutnya di Sungai Bunggo Jorong Godam dan tak jauh dari Sungai Bunggo. Ketiga Istano itu umumnya hancur karena terbakar. Bahkan tahun 1804 istana yang dibangun Rajo Alam itu dibakar oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Ide pertama pembangunan kembali istano yang baru terbakar itu, menurut satu-satunya bendahara dan konsultan ahli pembangungan kembali istano itu Djafri Dt Bandaro Lubuak Sati, berasal dari Mantan Gubernur Sumbar Harun Zein Datuak Sinaro sekitar tahun 1973.
”Lalu, tahun 1974-1975 tim yang ditunjuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar dengan dukungan tiga tenaga konsultan ahli, selain saya juga Datuak Simarajo (mantan Ketua Kerapatan Adat Nagari Pagaruyung) dan Abu Yazid Seribujaya (ahli purbakala Kanwil Pariwisata) (keduanya sudah meninggal, red) melakukan observasi,” jelas Djafri. Tahun 1976, tambah Djafri sudah berdiri tiang tuo (utama, red) istana tersebut, baru tanggal 27 Desember 1976 sudah berdiri rangka istano dengan kontraktor dari PT Pembangunan Perumahan. Sedangkan anggaran diperoleh dari APBD Sumbar dan APBN, serta bantuan masyarakat. Bahkan, juga berasal dari Kerajaan Nagari Sembilan. Sekitar tahun 1986, pembangunan tahap pertama tuntas dilakukan dengan total anggaran tak lebih Rp1 miliar,” katanya.

Miliki 4.500 Unit Barang Purbakala
Untuk mengisi ulang Istano Basa, tambah Djafri, dilakukan dengan mengumpulkan barang-barang purbakala melalui masyarakat atau keturunan kerajaan yang masih tertinggal. ”Ada yang menerima ganti rugi, hibah atau hanya menitibkan begitu saja di istano. Total keseluruhannya mencapai 4500 unit,” ungkapnya.
Keseluruhan barang-barang purbakala itu, menurut Djafri ditempatkan sesuai dengan peruntukannya. Lantai pertama yang dikenal dengan ”Rumah Gadang Tigo Sasaing, di Kida Sarambi Papek, di Kanan Rajo Babandiang dan Tangah, Gajah Maharam,” di lantai ini ditempatkan barang-barang yang berhubungan dengan tahta kerajaan, permufakatan, musyawarah, penyambutan tamu, dan pengambil keputusan dalam persengketaan.
Sedangkan lantai II, dikenal dengan ”Anjungan Paranginan”. Di lokasi ini ditempatkan tilam (kasur), katil (tempat tidur raja). Juga, kelengkapan menenun, serta peralatan dengan kerajinan wanita. Pasalnya, lantai ini tak memang seyogyanya diperuntukan untuk wanita dan keluarga raja. Kalau melangkah ke tingkat III, di lantai ini ditempatkan dokumen-dokumen yang berharga. Dalam ruangan yang lebih dikenal dengan “Mahligai” ini, diisi dengan surat-surat rahasia, tambo, keris pusaka, dan lainnya. ”Itulah sebabnya, untuk lantai II dan III biasanya tidak dibuka untuk umum, karena di situ disimpan barang-barang bernilai sejarah tinggi dan rawan rusak,” katanya.

sumber : padek

Ustano (istana) basa Pagaruyuang...

Sejak kemaren, berita yang selalu aku pantau perkembangannya adalah seputar terbakarnya istana basa pagaruyung, yang kini tinggal kerangkanya saja. Entahlah, rasa sedih dan kehilangan yang amat dalam tidak bisa aku pungkiri.
Sangat wajarlah sebagai urang minang aku merasa sangat kehilangan sebuah kebanggaan yang punya nilai historical seperti istana basa pagaruyung. Emang sih masih ada istana si linduanag bulan, yang menurut bundo kanduang Puti Raudha Thaib adalah tempat menyimpanan dokumen asli kerajaan pagaruyung... tapi istana si lindung bulan tidak begitu dikenal masyarakat...yang dikenal adalah istana basa pagaruyuang.
Telah banyak pejabat yang dianugerahkan gelar sangsako di istano basa ini.

Termasuk Pak SBY, dan syukurlah pak SBY telah mengatakan akan membantu pembangunan istana ini.
Dari Padek hari ini aku baca, untunglah masih sempat diselamatkan beberapa peninggalan bersejarah yang kini di simpan dikantor BP3 Batusangkar

Daftar Benda Koleksi Istano Pagaruyung yang Diselamatkan di Kantor BP3 Batusangkar
-------------------------------------------------------------------------------------------
1. Canang 6 buah Di Fitrin A
2. Gong 1 buah DI Fitrin A
3. Talempong 2 buah D Fitrin A
4. Pot Bunga Tembaga 1 buah D Fitrin B
5. Tempat Sirih 2 set D Fitrin B
6. Ceret Tembaga 2 bush D Fitrin B
7. Wadah Tertutup (buang air Iudah) 2 buah (kecil D Fitrin B 1, besar 1)
8.Wadah Terbuka (buang air Iudah) 2 buah (kecil Di Fitrin B 1 besar 1)
9. Guci 9 buah DI Fitrin C
10. Piring 3 buah DI Fitrin D
11. Mangkok Tertutup 2 buah Di Fitrin D
12. Mangkok Terbuka Besar 1buah Di Fitrin D
13. Mangkok Terbuka Kecil 1 buah D Fitrin D
14. Teko 1 buah D Fitrin D
15. Penutup Mangkok 1buah Di Fitrin D
16. Botol Wisky 1 buah D Fitrin D
17. Guci Warna Kuning Besar (No.Kolek 2) 1 buah Di Luar Fitrin
18. Gong Besar (NO. Koleksi 16) 1 buah D Luar Fitrin
19. Gong KecilTali Plastik Hitam tambah tali kain hitam 2 buah D Luar Fitrin
20. Meriam tanpa mocong (hilang) 1 buah D Luar Fitrin
21. Guci (No. Koleksi 9) 1 buah D Luar Fitrin
22. Tempayan (No. Koleksi 5) 1 buah D Luar Fitrin
23. Tempayan (No. Koleksi 8) bibir rusak/ sumbing 1 buah Di Luar Fitrin
24.Tempayan (No. Koleksi 11) bibir rusak (sumbing) 1 buah D Luar Fitrin
25.Dulang kayu (pecah dua) 1 buah Di Luar Fitrin
26.Tempayan (No koleksi 7) 1 buah Di Luar Fitrin
27.Tempayan (pecah dua)pecahan dua keping 1 buah Di Luar Fitrin
28. Carano (warna perak) 1 buah Di Luar Fitrin
29.Carano tembaga 1 buah Di Luar Fitrin
30.Belango tembaga 2 buah Di Luar Fitrin
31.Guci pecah, pecahan 8 keping 1 buah Di Luar Fitrin
32. Lukisan Tuanku Yang DipertuanAlam Bagarsyah JohanBerdaulat 1 buah Di Luar Fitrin
33.Keris dan wadah 7 buah Di Luar Fitrin
34.Kering berbentuk tongkat panjang 1 buah Di Luar Fitrin
35.Tongkat bahan tanduk 1 buah Di Luar Fitrin
36.Tongkat kayu 1 buah Di Luar Fitrin
37.Keris tanpa wadah 2 buah Di Luar Fitrin
38.Tempat kapur sirih (soda)bahan kuningan 1 buah Di Luar Fitrin
39. Kotak kayu berukir bung-bungaan tanpa isi 1 buah Di Luar Fitrin
40.Kotak panjang dengan dilapisi kertas merah dengan sbb:
- Keris panjang tanpa wadah 1 buah
- Keris dengan wadah 1 buah
- Keris tanpa wadah dan tangkai 1 buah
- Cepu dengan anak gantungan 1 buah
- Cap berbentuk bulat tanpa tangkai 1 buah

Catt : Barang-barang tersebut kini tersimpan di Kantor BP3 Batusangkar