Prosesi kematian di Batipuah Ateh, Padang Panjang
Entah kenapa aku pingin aja menuliskan hal ini. Bermula dari ngobrol² ama Irena, Tuti, Mba Mul dan Mba Santi waktu lunch tadi. Ayahnya Irena dan Ibunya Tuti baru saja meninggal. Bentar lagi mo' 40 Hari-anAku ingin menuangkan prosesi kematian yang ada dikampung Batipuah Ateh pada saat ada yg meninggal. Seiring dg perkembangan zaman tradisi ini akan memudar dan bisa saja suatu saat tinggal tinggal kenangan belaka. Untuk itu aku ingin tuangkan disini agar tidak terlupakan
1. Manjanguak
Kaba baiak baimbauan,kaba buruak maambauan.... Jadi kalo kita mendengar ada yg meninggal kita akan langsung datang "manjanguak" kerumah yang meninggal. Kaum ibu biasanya membawa kain panjang dan diselimutkan ke mayat sedangkan kaum bapak biasanya mereka "manyiriah" yg saat ini telah diganti dengan rokok dan sebagian menggali kuburan ditanah kaum masing². BIla yang meninggal seorang Datuak maka beliau akan dikuburkan ditanah kaumnya alias ditanah kemenakannya. kalo laki² yang bukan datuak boleh dikubur dipandam pakuburan anak atau keponakannya ..tergantung kesepakatan.Setelah simayat dimandikan lalu dishalatkan dan dikuburkan dan para pelayat pulang kerumah masing.... Sebelum pulang tentunya para ibu² akan mengambil kain panjang mereka masing² dan biasanya kan langsung dicuci
2. Mangaji
Malamnya akan diadakan Yasin-an dirumah anak² perempuan dan keponakan yg meninggal bila yang meninggal itu yang laki² tapi kalo perempuan cuma dirumah anak perempuannya saja. Yasinan dilakukan 3 malam. Oleh laki² dan perempuan. Pada malam ketiga biasanya dihidangkan ampiang basaka/bakuah (ampiang yang diberi air gula merah)
3. Mangampiang/Bakayu
Keesokan harinya atau sehari setelah dikuburkan diadakanlah acara "mangampiang" bagi kaum ibu². Mangampiang dilakukan dirumah kemenakan dan dirumah anak (bila yang meningggal laki²).Mengampiang yaitu proses menumbuk padi ketan yang telah direndam untuk dibikin ampiang. Padi ditumbuk rame² dilasuang biasanya oleh 2 atau 3 orang. Harus punya sedikt keahlian untuk melakukan hal ini kalo tidak bisa²nya beradu satu sama lain. Beras ampiang ini biasanya dibagi²kan bagi pelawat perempuan dan sebagian disimpan untuk malam ke tiga.Para pelawat perempaun biasanya membawa beras yang ditaroh di "kampia" dan dibungkus dg sapu tangan tetapi para kerabat dekat biasanya tidak membawa beras pada saat mangampiang, melainkan pada acara manujuah hari. Sedangkan kaum bapak membawa kapak dan menebang pohon. Kayu tersebut dipotong dan dibelah² kecil (dikapiang) untuk bisa digunakan untuk memasak.Jadi setiap rumah harus punya pohon diladang untuk jaga² kalo nanti ada yang meninggal. Setelah kayu dikapiang biasanya manyiriah rokok dan para kaum bapak biasanya duduk dihalaman beralaskan tikar.
4. Manujuah Ari (7 hari)
Yaitu semacam acara selamatan yang dilakukan 7 hari setelah meninggal. Diadakan doa bersama yang dipimpin oleh "urang siak" (urang alim) dan sebelumnya dibakar kemenyan. Kaum perempuan biasanya datang membawa beras dikampia dan dibangkiah (semacam katidiang ) yang ditutup dg daun lamak (terbuat dari berudhu berbentuk segiempat beukuran kira² 50 x 50 cm). Bagi yang membawa bangkiah didalamnyajuga ditambahkan kelapa satu biji. Membawa bangkiah harus dg cara " dijujuang" (di taroh diatas kepala), Bagi menantu atau ipar besan biasanya memabawa nasi pambujuak. nasi lengkap dg lauk pauk rendang, asam padeh, pangek, singgang ayam, karupuak jangek ) ditaroh di dulang dan ditutuik sungkuik aia (tudung dari anyaman) dan ditutupi lagi dg bungkusan ( terbuat dari berudhu berukuran kira² 75 x 75 cm dan unjungnya dibeikan rumbai²)
Tuan rumah juga menghidangkan makanan lengkap dg nasi lamak buat yang datang. tapi sebagian ada yang tidak mau makan dirumah yang meninggal alias "bapantang" dan pulangnya kampia/bangkiah ibu² diisi dg bungkusan daun pisang yang berisi nasi lamak, godok pisang, pinyaram dan goreng pisang.
5. Ampek puluah hari (40 hari)
Selamatan yang dilakukan setelah 40 hari almarhum/ah meninggal , tapi yang datang tidak terlalu banyak paling kerabat dekat
6. Maratuih Ari (100 hari)
Selamatan yang dilakukan setelah 100 hari almarhum/ah meninggal , yang datang juga tidak banyak paling kerabat dekat
7. Saribu Ari (1000 hari)
Hampir sama dengan 100 hari malah kadang² tidak dilakukan karena sudah terlupakan


0 Comments:
Post a Comment
<< Home